KUTUKAN HUTAN PINUS

Ini adalah ceritaku. Masih teringat jelas di pikiranku, semua begitu mengerikan. Apakah kalian tahu bahwa setiap daerah mempunyai pantangannya tersendiri?. Hal itulah yang terasa saat pertama kali aku menginjakkan kaki di daerah Sunda Jawa barat. Saat itu aku berusia 9 tahun, masa sekolah adalah masa di mana aku bersenang-senang dan bergembira. Orang tuaku selalu menganggapku buruk di mata mereka, sementara saudaraku yang lain selalu di manja oleh mereka. Oh ya, maaf sebelumnya. Namaku Linda Dewi permata, bisa kalian panggil dengan linda. Aku memiliki satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan.

Di masa sekolahku sungguh tercetus ingatan mengerikan di balik kisah yang kutulis. Saat usiaku menginjak 20 tahun, di situlah memori buruk di kehidupanku akan terlintas untuk selamanya. Inilah kisahku.

Aku bersekolah di daerah Banyuwangi bersama keluargaku. Pada masa-masa kuliah aku mempunyai banyak teman baik. Di antara mereka ada Klara. Dia gadis penyemangat di saat yang lain terpuruk. Ada juga yang namanya galang. Ya, memang dia anak yang menyebalkan. Namun dia selalu aktif. Itulah yang membuatku memendam perasaan padanya. Pada tahun 2019 aku dan teman temanku memutuskan untuk mengadakan acara camping di hutan pinus Jawa barat. Sebenarnya orang tuaku sudah melarangku untuk pergi ke sana dikarenakan mereka memiliki firasat yang tidak mengenakan. Saat itu aku terbawa dendam yang teringat kembali dalam pikiranku. Entah apa yang merasukiku aku tidak memperdulikan ucapan orang tuaku bahkan sampai seribu kata sekalipun.

Tibalah hari pemberangkatan kita. Aku bersama Klara, Galang, Cinta, Marco, dan Fajar. Ya, sekitar enam orang yang ikut. Di perjalanan kami menaiki mobil pick-up karena di sana tidak boleh menaiki mobil penumpang. Alhasil karena terpaksa, kami tidak mempunyai pilihan lain. Di antara rimbun pepohonan, aku bisa melihat matahari mulai terbenam. Malam sudah berlarut-larut. Kami menggelar tenda agar bisa melanjutkan perjalanan esok hari. Tetapi, salah satu dari kami membuat kesalahan besar. Fajar dan Cinta, mulut mereka tak bisa dijaga dengan baik. Apalagi dengan perilaku mereka. Selalu saja membuang sampah bekas makanan sembarangan. Tidak bisa di beri nasehat dan kesal, aku berjalan sendirian menyusuri gua di tengah hutan. Tiba-tiba, aku mendengar seruan burung gagak yang bertengger di atas pepohonan pinus. Aku teringat peringatan orang tuaku, bahwa saat sudah sampai agar menjaga sikap dengan baik. Karena adat di sana masih kental dengan budayanya. 

Pagi-pagi buta aku terbangun dengan sangat mengantuk. Terdengar teriakan dari Klara saat dia terlelap dari tidurnya. Tiba-tiba ia terbangun dengan mata yang sangat tebal menyelimuti kelopak matanya. Aku bertanya "kenapa Kar?" dia melamun seperti ruangan kosong yang tak berpenghuni. Aku bingung, "ke mana ya, mereka pagi begini kok ninggalin aku." Kosong pikiranku memanjakan diriku, tak tersadar bahwa mereka sudah terlalu lama meninggalkan tenda sejak tadi pagi.

Galang, Cinta, Marco dan Fajar ke mana mereka?

Hari ini, jam sebelas malam aku memutuskan untuk pergi mencari mereka. Bersama Klara kami menyusuri sepanjang hutan pinus, ditemani dengan suara burung hantu dan burung gagak.

Kantuk membuatku merasa lemas, Klara menggoyang badanku, aku pun tersadar. Pemandangan yang pertama kali aku lihat adalah botol-botol minuman beralkohol tinggi yang tergeletak. Tak hanya satu dari itu semua, aku juga melihat pakaian Cinta yang berwarna hijau krem penuh dengan noda dan sobekan di bagian pahanya.

Aku menangis di bahwa redupan pohon cemara di tengah hutan. Aku bingung tak tahu harus berbuat apa. Dalam hatiku aku berkata "Sebenarnya apa yang terjadi?". Klara menenangkanku dalam dekapannya. 

Sudah terlalu lama aku dan Klara menunggu mereka tanpa kabar di hutan pinus sendirian. Polisi pun masih melacak keberadaan mereka sampai saat ini. Keluarga mereka di rumah juga mengharapkan hasil yang terbaik, terutama orang tuanya Galang. Mereka mempercayai aku untuk menjaganya sebagai pasangan yang terbaik. Namun aku hanya bisa berdoa kepada sang pencipta agar mereka baik-baik saja.

Sunyi merenung sejenak dalam heningnya malam. Di dalam mimpiku aku bertemu seseorang perempuan tua yang mungkin sudah dekat dengan kawasan di sini. Ia membisikkan suatu ucapan padaku. "Nak, teman-temanmu itu harus di beri pelajaran, agar mereka tidak merusak aturan yang dia buat di sini." Aku bertanya " memang teman-teman saya buat apa mbah. Dan dia itu siapa ?". Segenap terlelap dari tidur, goyangan tenda membuat aku terbangun. Itu adalah Polisi yang menyelidiki kasus hilangnya teman temanku yang sampai saat ini. Dengan suara menyesal Mereka mengatakan bahwa "Mbak, sepertinya dua dari teman mbak berhubungan badan di sini. Dan sepertinya dia marah akan perilaku mereka, sehingga dia merampas jiwa mereka. Ujar kepala Polisi Sontak aku melihat jenazah Galang kekasihku sendiri dan Cinta dalam keadaan tidak menggunakan busana. Teriakanku mengguncangkan sejagat ini. Galang, kekasihku yang setiap hari melukis hari bersamaku. Kini Cinta sahabatku sendiri, harus menjadi sosok ketiga dalam acara tunanganku yang sebentar lagi Aku dan Galang laksanakan.

Lalu, Marco dan fajar ke mana?. Aku teringat ucapan kepala polisi tadi dan sang nenek yang ada dalam mimpiku. Dia, apakah yang dimaksud itu penunggu?, mungkin dia tidak suka dengan sikap teman-temanku yang tidak tahu aturan di sini. Mungkin ini semua adalah petunjuk yang dia berikan kepadaku agar tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti mereka. Apa pun yang terjadi aku serahkan ini kepada sang pencipta. Dan yang sudah berlalu, biarkan menjadi memori busuk yang akan terbuang suatu saat nanti.

Dua bulan setelah acara camping hutan yang kami laksanakan. Marco dan fajar ditemukan dengan keadaan membusuk dengan mulut yang berbusa memenuhi seluruh wajah mereka. Dan bisa dimakamkan tiga hari setelahnya.

Ya, mau bagaimana lagi. Takdir tidak bisa diubah, cara lain berkata. Sesungguhnya orang-orang yang melakukan kemaksiatan, akan menemukan keburukan suatu saat nanti. 

Aku dan keluargaku sudah mulai dekat satu sama lain. Mereka sadar bahwa seseorang tidak bisa kita paksakan. Aku mengerti, mereka hanya ingin yang terbaik untukku. Dan aku yakin bahwa semua yang mereka anggap buruk di mata orang tuaku, sesungguhnya itulah yang menuntunku pada kemaksiatan.

Inilah kisahku, aku menulisnya pada tahun 2024 awal. Karena mungkin terlalu sulit melupakan apa yang sudah terjadi. Tapi keberanian menunjukkan bahwa ketakutan sedikit pun tidak akan menggetarkan niatku untuk terus berhasil kemudian hari. Sekian sedikit cerita yang bisa kusampaikan, aku harap kalian bisa mengambil motivasi dari cerita yang aku tulis.

Salam pamit. 






  

Komentar